SUIJI-SLP 2026: Membangun Jembatan Empati dan Transformasi Menjadi Warga Dunia
IPB University baru saja resmi menutup program Six-University Initiative Japan-Indonesia Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026 dalam sebuah seremoni khidmat di Common Class Room Auditorium, Kamis (5/3). Program yang melibatkan kolaborasi erat antara IPB University dengan tiga mitra universitas dari Jepang—Ehime University, Kagawa University, dan Kochi University—ini bukan sekadar menjadi ajang pertukaran akademik, melainkan sebuah perjalanan transformasi bagi mahasiswa untuk menjadi warga global yang memiliki kepekaan sosial mendalam.
Selama program berlangsung, para mahasiswa dari kedua negara tidak hanya mempelajari teori pembangunan pedesaan di ruang kelas, tetapi terjun langsung dan hidup bersama masyarakat di Desa Jayamekar. Di sana, mereka menyaksikan secara nyata bagaimana pertanian bukan sekadar ilmu tentang tanah dan benih, melainkan denyut nadi kehidupan masyarakat. Melalui interaksi langsung di perkebunan kopi Pakenjeng, para peserta melihat bagaimana teknologi agroforestry modern bersinergi dengan kearifan lokal yang telah terjaga secara turun-temurun.
Dalam pesan penutupnya, Prof. Deni Noviana selaku Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan menekankan bahwa nilai terbesar dari program ini adalah pertumbuhan empati dan perspektif global. Beliau menyampaikan, “Pengetahuan mungkin sering kali didapatkan di ruang kelas, namun kebijakan ditemukan dalam sebuah perjalanan. Melalui SUIJI-SLP, kita tidak sekadar menandai berakhirnya sebuah program, melainkan menyaksikan transformasi mahasiswa menjadi warga dunia. Kerja keras, tawa, dan interaksi lintas budaya yang kalian jalin telah membangun pemahaman bermakna yang akan terus menetap jauh setelah lumpur di sepatu bot kalian mengering.”
Keberhasilan program ini juga menegaskan komitmen IPB University dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi internasional. Sinergi antara mahasiswa Indonesia dan Jepang dalam memecahkan tantangan di lapangan menjadi bukti nyata bahwa batas negara bukan penghalang untuk sebuah misi kemanusiaan yang lebih besar. Prof. Deni menambahkan sebuah pesan menyentuh bagi para peserta, “Kalian datang sebagai rekan sejawat, namun kalian pulang sebagai sebuah keluarga yang terikat oleh misi bersama demi dunia yang lebih baik. Semangat SUIJI ini harus terus mengalir melampaui batas-batas negara untuk terus memberdayakan dunia”. (DAN)

